Kamis, 13 Oktober 2011

Peranan Rasio Keuangan Sebagai Salah Satu Indikator Valuasi Saham


Laporan keuangan merupakan salah satu input yang akan digunakan investor untuk menilai kinerja perusahaan dan melihat bagaimana prospek kinerja dimasa yang akan datang, yang mana secara garis besar laporan keuangan dapat dibagi menjadi empat tipe utama namun yang sering digunakan yaitu laporan neraca dan laporan laba rugi. Lebih lanjut bahwa laporan neraca yang merupakan gambaran kekayaan perusahaan serta hutang dan modal yang dimiliki perusahaan sedangkan laporan laba rugi yang merupakan gambaran operasionalisasi perusahaan, yang mana dari kedua laporan keuangan inilah kalkulasi rasio-rasio keuangan dapat dilakukan. Secara garis besar bahwa rasio-rasio keuangan dapat dibagi menjadi empat bagian besar yaitu rasio likuiditas, leverage, aktivitas dan profitabilitas.
Rasio likuiditas yang dimaksudkan untuk meihat bagaimana kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang jangja pendeknya serta kemampuan membiayai modal kerjanya. Adapun rasio ini diwakili oleh tiga kategori yaitu cash ratio, current ratio dan quick ratio. Cash ratio merupakan ratio yang paling likuid karena rasio ini merupakan rasio ketersediaan uang likuid yang dimiliki perusahaan sehingga rasio ini menjadi indicator empiric likuiditas perusahaan, sedangkan rasio lancer (current ratio) yang membuktikan bagaimana ketersediaan seluruh aktiva lancer dalam menunjang kemampuan perusahaan namun sebenarnya masih kurang likuid dibandingkan cash ratio karena meliputi seluruh pos aktiva lancar.
Lebih lanjut bahwa rasio lancar juga sering sering digunakan untuk menilai bagaimana kemampuan perusahaan melunasi hutang jangka panjangnya yang akan segera jatuh tempo, hal ini disebabkan pada umumnya perusahaan memiliki hutang jangka panjang dan untuk melunasi hutang tersebut maka perusahaan akan melunasinya menggunakan asset yang mudah dicairkan menjadi uang kas dan hal inilah yang menjadikan rasio ini menjadi relevan dalam menghitung kemampuan likuiditas perusahaan. Ratio cepat (quick ratio) yang merupakan rasio kedua setelah cash ratio dalam umuran likuid karena pada rasio cepat maka pos persediaan akan dihilanhkan karena pos inilah yang paling tidak likuid dibandingkan seluruh aktiva lancer. Terlepas tingkatan likuiditas maka rasio ini bermanfaat untuk perusahaan dalam hal menopang rasio kas dan kurang ditujukan untuk melihat kemampuan perusahaan dalam menjamin pelunasan hutang jangka panjang karena seperti yang diketahui bahwa hutang jangka panjang memiliki nominal yang besar sehingga rasio lancar akan lebih relevan.
Rasio leverage yang bertujuan untuk melihat bagaimana kemampuan perusahaan untuk melunasi hutang jangka panjangnya, yang mana rasio yang sering digunakan adalah rasio solvabilitas dan D/E ratio. Rasio solvabilitas yang diukur dengan total hutang terhadap total aktiva merupakan rasio yang penting karena akan menunjukkan proporsi hutang jangka panjang dari keseluruhan asset. Lebih lanjut bahwa hutang jangka panjang yang memiliki nominal besar sehingga akan banyak menguras sumber daya keuangan perusahaan dan hal lainnya yang membuat rasio ini menjadi relevan yaitu rasio ini berkaitan erat dengan bunga yang harus dibayar perusahaan sehingga memperbesar kemungkinan perusahaan untuk mencari new blood untuk melunasi hutang jangka panjang.
Dengan demikian maka rasio ini ditujukan untuk kepentingan kreditur namun apabila ditelaah lebih lanjut maka rasio ini menjabarkan bagaimana perusahaan mengelola leveragenya dan terhindar dari leverage keuangan yang tidak wajar (> 50%) sehingga terhindar dari financial disstres. Sedangkan untuk D/E ratio lebih ditujukan untuk mengetahui bagaimana kemampuan modal sendiri dalam melunasi hutang jangka sehingga rasio ini membantu manajer keuangan dalam memutuskan apakah dalam kondisi membutuhkan sumber daya keuangan tambahan maka manajer keuangan harus menggunakan tambahan hutang ataukah menerbitkan saham baru.
Rasio aktivitas yang ditunjukkan untuk melihat bagaimana efisiensi perusahaan dalam menggunakan asktivanya sehingga berkaitan erat dengan bagaimana perusahaan mengelola biaya tenaga kerja langsung, biaya material dan biaya overhead dan biaya lain-lainnya sehingga rasio yang sering digunakan yaitu rasio penjualan terhadap total aktiva. Rasio ini menggunakan penjualan sebagai pembilangnya sehingga para manajer keuangan diharuskan meningkatkan penjualan dengan efisiensi yaitu memenejemen dengan baik keseluruhan biaya sehingga mampu menurunkan harga dan meningkatkan kualitas sehingga akan lebih banyak produk yang terjual.
Lebih lanjut bahwa rasio ini juga rentan terhadap kegunaannya karena seperti yang dilihat dari penyebutnya yaitu total aktiva sehingga rentan terhadap perubahan proporsi hutang dan menyebabkan berfluktuasinya nilai dari rasio ini, namun terlepas dari kelemahan ini maka rasio ini tetap berguna karena membuat para manajer perusahaan untuk memfokuskan pada peningkatan penjualan dengan efisiensi. Rasio profitabilitas yang ditujukan untuk melihat sejauh mana perusahaan mampu profitable secara berkesinambungan sehingga terdapat pada umumnya rasio ini diwakili oleh ROI, ROE, P/E ratio.
Penggunaan ROI sebagai salah satu indicator kesuksesan perusahaan disebabkan bahwa rasio ini menggunakan EAT sebagai pembilang sehingga rasio ini membuat manajer lebih memfokuskan pada peningkatan EAT dengan seluruh sumber dayanya, sedangkan ROE yang merupakan muara dari semua rasio keuangan (dupont system) menunjukkan bagaimana kontribusi kinerja manajer perusahaan dalam menambah kekayaan pemegang saham. Hal ini didukung dengan bukti bahwa bagaimana prosentase EAT teerhadap jumla uang yang diberikan pemiliki perusahaan sehingga rasio ini rentan terhadap masalah agency namun seperti yang diketahui bahwa rasio ini tetap menjadi muara karena mengukur kontribusi kinerja operasionalisasi perusahaan terhadap kesejahteran pemegang saham.
Lebih lanjut bahwa rasio ini sebenarnya merupakan manifesasi dari tujuan perusahaan (financial managemen) yaitu menambah kesejahteraan pemilik perusahaan yang mana dalam hal ini adalah pemegang saham (shareholder). Rasio terakhir dari rasio profitabilitas yaitu P/E ratio yang bertujuan mengukur bagaimana perusahaan kita dari perspektif investor karena semakin tinggi rasio ini maka semakin baik citra perusahaan di benak investor. Lebih lanjut bahwa rasio ini merupakan rasio yang paling rentan terhadap permasalahan agency karena akan membuat manajer-manajer mencoba mempengaruhi persepsi pasar dengan sengaja membuat informasi yang membuat sentiment positif terhadap perusahaan dan mengakibatkan meningkatnya harga saham (overvalue) dan mengakibatkan manajer perusahaan akan dinilai berkinerja baik dan berkecendrungan memperoleh penambahan bonus.
Terlepas dari kekurangan rasio ini maka rasio ini tetap bermanfaat karena berkaitan dengan persepsi positif ataupun negative pasar dan apabila para manajer berhasil mempengaruhi persepsi pasar maka akan mempengaruhi kebanggan (prestise and pride) sebagai pemiliki perusahaan dan berakibat pada semakin banyak investor menginginkan untuk membeli dan semakin mendorong harga saham melambung tinggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar