Selasa, 18 Oktober 2011

Ketidaksadaran


Menyadari siapakan saya akan memberi pencerahan tentang kamu yang sesungguhnya dan untuk apa kamu berada di dunia. Tanpa memahami siapakah aku maka aku pun tak mengerti mengapa aku diberikan waktu detik demi detik. Pemberian waktu yang tidak dipahami akan mendatangkan perilaku yang menyimpang dari standar moral. Dimana, maksud dari standar moral dalam tulisan ini adalah kepekaan jiwa (soul) terhadap setiap stimulus. Namun kepekaan tersebut tidak dapat diwujudnyatakan karena seringkali ada pemahaman diri yang keliru terkait siapakah aku. Oleh karena itu, untuk mengerti siapakah aku maka aku pun dituntut untuk berefleksi dan memicu kesadaran. Menurut kamus besar bahasa Indonsesia, kesadaran berarti keinsafan; keadaan mengerti; hal yang dirasakan atau dipahami seseorang.
Berpijak pada definisi tersebut, sangat jelas bahwa kesadaran merupakan buah dari refleksi karena untuk memahami maka dibutuhkan niat dan upaya, yang apabila diperas akan menjadi kesadaran diri. Tepatnya kesadaran diri diartikan sebagai pemahaman seseorang akan setiap perilakunya dan akan memberikan umpan balik kepada dirinya dalam upaya menjadi manusia yang pada kodratnya adalah makluk hidup yang dianugerahi kemampuan berbuat sesuatu bagi sesama manusia. Dan, hal ini merupakan suatu rahmat yang tidak disadari manusia. Didorong oleh ketidapahaman tentang rahmat maka secara eksplisit meningkatkan  ketidakpahaman tentang amanah dan dapat berujung pada ketidakpahaman tentang akutualisasi diri. Namun jika dikritisi ditemukan bahwa kemalasan berpikir refleksi merupakan cikal bakal terjadinya.
Kemalasan berpikir ini dipandang dari psikologi kognitif merupakan buah dari kekurangpekaan untuk berusaha mendayagunakan kemampuan (ability) sehingga mampu mengikis kesalahan-kesalahan berpikir yang terkristalkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun selain ditilik dari psikologi kognitif maka penulis akan lebih menitikberatkan pada perspektif penulis sendiri beradasarkan pengalaman yang penulis amati. Tepatnya yaitu kemalasan berpikir disebabkan ketidakmampuan refleksi diri untuk memacu diri untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari, apalagi di tambah lingkungan sekitar yang mengarahkan pada kemalasan berpikir dan hanya mau menelan segala sesuatunya tanpa berpikir dahulu.
Terkait pembahasan di atas, maka penulis tidak menghakimi bahwa hipotesis penulis benar, akan tetapi jika ada kejujuran maka akan terjadi kejujuran pada diri sendiri. Lebih lanjut, karena tidak adanya kejujuran yang hakiki pada diri sendiri mengakibatkan menguatnya tembok ketidaksadaran diri. Penguatan ini berpeluang menyebabkan seseorang hanya mampu melihat kesalahan orang lain tanpa mampu melihat kesalahan dirinya, dan hal ini akan semakin mengokohkan pola pikir yang mengarah pada kemalasan berpikir refleksi. Atau dengan perkataan lain akan mengarahkan pada pembekuan pikiran serta mengeringnya daya imajinatif ketika diperhadapkan pada masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, berpijak pada penjelasan sebelumnya maka alangkah baiknya seseorang terus mengisi pikirannya dengan pikiran-pikiran positif, disiplin membaca buku, berupaya mengamati lingkungan dan dirinya, dan lain-lainnya untuk terus-menerus mengaktifkan aktifitas otak. Selain itu juga, berpijak pada hasil-hasil temuan dalam bidang nerulinguistik bahwa sebenarnya otak manusia tidak mengalami keausan seperti persepsi-persepsi orang awam melainkan otak kita dirancang oleh sang pencipta dengan sirkuit-sirkuit mental yang dapat diperkuat ketika diberi tantangan. Selengkapnya dapat dibaca terkait buku-buku nerulinguistik seperti Restak (2005), Olivia dan Alam (2006), Zweig (2009), dan lain-lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar