Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Januari 2013

Jangan Ada Dusta Diantara Kita


Judul di atas merupakan suatu lirik lagu yang dinyanyikan oleh Obi Besakh dan cukup terpopuler sejak pertama kali dinyanyikan hingga kini. Dan penulis juga senang dengan judul lagu tersebut karena itu penulis mencoba membahasnya dari perspektif berbeda yakni dalam bidang politik. Tepatnya yaitu bagaimana Jangan Ada Dusta Diantara Kita memiliki keeratan hubungan dengan bagaimana interaksi antara manusia ketika berpolitik. Lanjut bahwa dalam berpolitik seringkali orang namun bukan semua orang berpolitik berperilaku seperti ini bahwa orang seringkali menggunakan senjata bermuka dua untuk mendapatkan kekuasaan, dan hal ini kadang-kadang sudah menjadi hal yang lumrah dalam berpolitik.
Ketika berpolitik, seseorang yang begitu luar biasa mendapatkan kekuasaan akan mencoba berdusta dengan berjanji ini itu namun ketika sudah menduduki suatu jabatan maka yang terjadi adalah semuanya hanyalah tinggal kenangan dan kenangan itu dalam tulisan ini diartikan sebagai tidak pernah terjadi atau hanya ilusi saja. Ketika sudah kondisi sudah seperti itu, orang hanya akan diam dan tidak bisa melakukan apa-apa karena bagaimana pun posisi jabatan yang sudah diduduki menjamin posisinya yang layak dan tak tersentuh.
Berpijak pada ulasan sebelumnya, relevansi Jangan Ada Dusta Diantara Kita dalam berpolitik sangat erat dan hal itu sangat bermanfaat karena perlahan tapi pasti akan menggugah cara berpolitik. Dalam artian bahwa akan mencoba menggunakan cara-cara yang ebrmuatan etis ketika berpolitik dan bukan hanya menjadikan tujuan menghalalkan semua cara dan ketika terjadi efek negatif maka yang terjadi hanya menghilang atau mencari kambing hitam untuk disalahkan. Penulis akui bahwa memang untuk mengaplikasikannya sangat sulit ketika seseorang berpolitik namun bagaimanapun etika dalam berpolitik patut diperjuangkan.
Sehubungan dengan penggunaan etika dalam berpolitik yang mana dalam tulisan ini berslogan Jangan Ada Dusta Diantara Kita dapat diawali dari bentuk pendidikan politik. Dalam arti bahwa mata pelajaran etika berpolitik dan etika bisnis dapat memuat nilai-nilai Jangan Ada Dusta Diantara Kita seperti bagaimana menekankan bahwa bermuka topeng itu merupakan suatu pelanggaran etika dan variasinya. Sampai di sini, tampak bahwa Jangan Ada Dusta Diantara Kita dapat diawali dari kepala yang mana bermakna bahwa paradigmanya yang harus dibenahi sehingga jangan terjebak dalam prinsip menggunakan segala cara untuk mencapai suatu tujuan.
Selain itu, dapat juga diawali dari pendidikan keluarga sehingga anggota keluarga menjadi tetanam nilai Jangan Ada Dusta Diantara Kita dan mulai berperilaku tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular. Dalam arti bahwa tulus menggambarkan tujuan mulia atau alasan mengapa harus memperoleh kekuasaan serta bagaimana menggunakannya dengan bijak. Sedangkan cerdik berarti sikap untuk mencari cara memperoleh kekuasaan menggunakan cara-cara etis sehingga kombinasi dari tulus dan cerdik akan menjadikan manusia yang berpolitik dengan berlandaskan cara-cara beretika untuk memperoleh kekuasaan. Dengan demikian, selamat menjalani politik yang berlandaskan Jangan Ada Dusta Diantara Kita.

Rabu, 09 Januari 2013

Kebaikan Formalin


Berbuat baik yang tulus merupakan perbuatan mulia dan semua agama pun bahkan keyakinan yang ada dalam berbagai agama adat pun mengakuinya. Hanya saja dalam aplikasinya dapat saja ditemukan kebalikannya namun tidak berarti semua orang seperti itu. Menimbang kebaikan itu pada hakikinya adalah miliknya manusia dan diberikan secara cuma-cuma oleh sang Kuasa. Lanjut, bermodalkan kebaikan hati yang tulus itulah, manusia dalam menjalankan eksistensinya mengalami perubahan atau pun perkembangan sehingga manusia mampu membuat peradaban yang berarti.
Kembali pada kenyataannya bahwa tidak semua manusia memiliki kesadaran untuk melakukan kebaikan maka dalam tulisan ini disebut sebagai kebaikan formalin yang pada hakikinya merupakan kepalsuan atau manusia bertopeng. Untuk itu, dalam tulisan ini akan lebih diarahkan pada bagaimana mendeteksi kebaikan formalin. Menurut pandangan penulis bahwa cara konkrit untuk mendeteksinya adalah belajarlah dari pengalaman dan juga mengumpulkan informasi dari beberapa pihak. Menimbang apabila hanya mengumpulkan informasi pada satu pihak saja berpeluang mengalami kekeliruan. Oleh karena itu, mendeteksi lebih baik dengan menggunakan akal sehat dan rasional.
Namun bukan berarti bahwa kita berpikiran negatif pada seseorang yang memang pada awalnya melakukan kebaikan formalin namun seiring berjalannya waktu mengalami pencerahan. Untuk itu, ketika berinteraksi dengan lingkungan sosial, tidak berarti kita menutup diri dari pergaulan melainkan bagaimana cerdik namun tetap tulus sehingga tidak terjadi berpikiran negatif pada orang lain.
Sehubungan dengan ulasan sebelumnya, memang penulis juga akui bahwa dalam aplikasinya cukup sulit namun bukan berarti tidak dapat dilakukan. Karena seperti pepatah bahwa hidup ini hanya terdapat dua pilihan, seperti baik adn buruk, kiri dan kanan, bawah dan atas, laki-laki dan perempuan dan lain-lainnya. Namun sekali lagi tetaplah berpikir kritis karena bagaimana pun manusia adalah makluk sosial dan lingkungan sosial memberikan palung sekaligus ancaman. Jadi, bijak-bijaklah ketika bergaul dan tetap kritis. Salah sukses...

Selasa, 08 Januari 2013

Menjadi Dewasa Dan Mandiri Itu Pilihan


Semua orang juga pasti telah mengetahui bahwa siring berjalannya waktu, seorang manusia pasti akan bertumbuh fisiknya sehingga bertambahnya usia seiring membesarnya badan. Namun yang menjadi pertanyaan yaitu apakah usia bertambah akan berhubungan positif dengan kedewasaan seseorang? Menurut pandangan penulis bahwa hal itu belum tentu terjadi pada semua orang karena pada kenyataannya jumlah manusia yang sudah berusia di atas 17 tahun di dunia ini sangat banyak namun tidak semuanya berhasil mencapai kedewasaan.
Mengapa hal ini terjadi karena menurut pandangan penulis bahwa menjadi dewasa dan mandiri it merupakan suatu pilihan. Dalam pengertian, menjadi mandiri dan dewasa itu tergantung pada kesadaran orang tersebut untuk mau atau tidak mau menjadi dewasa dan mandiri. Karena ketika seseorang memutuskan untuk menjadi dewasa maka dirinya telah satu langkah maju, hanya perlu komitmen saja untuk tetap mempertahankan dan meningkatkan kedewasaan.
Sampai di di sini sudah tampak bahwa pilihan itu membutuhkan kesadaran plus komitmen. Pertanyaa lainnya yang muncul yaitu apakah semua orang mampu memilih untuk menjadi dewasa? Jawabannya absolut ia, karena pada prinsipnya semua orang sudah diberikan kemampuan untuk memilih. Oleh karena itu, menjadi dewasa dan mandiri merupakan suatu pilihan. Selain dari pada itu, menjadi dewasa dan mandiri juga membutuhkan faktor-faktor lainnya yang turut mempengaruhinya, beberapa diantaranya adalah faktor karakter, sikap, dan pengetahuan. Untuk itu, di awal tahun 2013 ini, tetapkan komitmen untuk terus bertumbuh berkembang menjadi manusia yang dewasa dan mandiri. Dalam dunia pendidikan, biasanya disebut sebagai human being.

Rabu, 07 November 2012

Kebodohan Jiwa


Memandang kesalahan orang lain itu sangat mudah dilakukan namun melihat kesahan diri sendiri merupakan suatu upaya yang membutuhkan kesadaran serta kejujuran tingkat tinggi. Karena pada prinsipnya melihat kesalahan atau kebodohan jiwa seringkali orang malas melakukannya dan pada akhirnya hanyalah pengulangan-pengulangan kembali kesalahan serta mungkin saja akan memicu perilaku penggerutu. Efek lanjutannya adalah hanyalah semakin tenggelam dalam lautan kebodohan jiwa yang tak berkesudahan.
Terkait tulisan ini, sebenarnya hanya akan mendeskripsikan bagaimana kebodohan jiwa dapat terjadi dalam bidang pengelolaan keuangan pribadi. Maksudnya yaitu bagaimana ketidaksadaran akan kebodohan jiwa dalam mengelola uang akan terulang-ulang lagi dan kemungkinan untuk sadar menjadi kecil peluangnya walaupun tidak berarti tidak dapat diubah. Spesifiknya yaitu bagaimana orang ketika salah mengelola keuangannya seperti boros, suka utang, gaya hidup mewah dan lain-lainnya akan terulang-ulang dan akan menjadi suatu kebiasaan yang melekat dalam hidup orang tersebut. Dan mungkin saja hal itu dapat berefek pada generasi selanjutnya sehingga menjadi suatu kebodohan turun temurun dari generasi ke generasi.
Hal sebelumnya akan terdeteksi lagi ketika mengamati bagaimana gaya hidup jaman sekarang yang memang dapat dikatakan berlebihan dalam konsumsi atau berperilaku konsumtif akan sangat terasa dan tampak dengan jelas bahwa kebodohan jiwa dalam mengelola keuangan. Apalagi jika sampai terjebak dalam persepsi bahwa kesuksesan diriku terletak dari apa yang saya gunakan”. Karena persepsi tersebut akan mengarahkan pada berupaya supaya terlihat sukses oleh orang lain walaupun pada kenyataannya tidaklah demikian. Ditambah lagi dengan sikap nekad untuk menunjukkan kesuksesan kita melalui barang-barang mewah yang digunakan akan membawa pada kondisi utang yang berlebihan.
Dengan kondisi utang yang berlebihan karena mengejar gengsi. Orang tersebut dapat saja membawa kebodohan jiwa tersebut pada keturunan mereka dan yang akan terjadi kemudian sudah dapat ditebak yaitu akan semakin memperburuk keadaan dan tentu saja akan semakin jauh dari fitrah seorang manusia. Logikanya adalah dengan terperangkap dalam kebodohan jiwa dan tidak sadar-sadar juga dengan kebodohannya tersebut akan mempermalukan dirinya senidri bahwa dirinya adalah manusia yang diberkahi dengan aka budi yang tujuannya yaitu memampukan kita untuk merespon, menginterpretasi dan membuat pertimbangan ketika membuat keputusan. Dan tentu saja keputusan tersebut meliputi keputusan keuangan juga.
Terlepas dari keterkaitan dengan fitrah manusia, dalam tulisan ini juga melihat bahwa kebodohan jiwa yang dibawah turun temurun akan menimbulkan konsekwensi buruk yang tak terkirakan. Tepatnya adalah menimbulkan mindset pecundang yang tidak mampu keluar dari kebodohan jiwa. Bermodalkan mindset pecundang akan menimbulkan jiwa pengecut yang hanya bisa hidup dalam angan-angan dan tak mampu melihat kenyataan yang sebenarnya. Tanpa kemampuan melihat kenyataan akan membawa pada kondisi yang hanya bekerja-bekerja dan bekerja tanpa mau memaknai hidupnya untuk mencapai kebebasan keuangan yang pada hakikinya adalah kewajiban semua orang. Dan mungkin saja akan menimbulkan sikap iri hati yang hanya suka berpikiran buruk ketika melihat orang lain sukses, apalagi yang sukses dalam bidang keuangan. Oleh karena itu, “jangan melotot kebodohan jiwa, cepat ambil tindakan untuk mengatasinya”. 

Selasa, 02 Oktober 2012

Revolusi KIA


Kesehatan merupakan hak semua orang dan untuk itu perlu diupayakan secara sungguh-sungguh supaya masyarakat mendapatkan hak kesehatannya dengan baik dan benar. Untuk itulah, dalam program revolusi kesehatan ibu dan anak (KIA) diselenggarakan supaya akses kesehatan masyarakat menjadi merata. Revolusi KIA merupakan suatu program terencana yang dikembangkan supaya setiap ibu hamil dapat melahirkan di fasilitas kesehatan yang memadai atau sepantasnya dan juga bagaimana bayi baru lahir atau neo natal juga mendapatkan pertolongan yang memadai. Dari program tersebut, tampak bahwa kesehatan ibu hamil (BUMIL) dan bayi neo natal mendapatkan perhatian yang dilanjutkan dengan aksi nyata. Dan tentu saja tujuan utamanya adalah mencegah kematian BUMIL dan bayi neo natal dan menuju kesejahteraan kesehatan bagi masyarakat.
Berpijak pada penjelasan di atas sangat tampak bahwa revolusi KIA merupakan suatu upaya yang dilandasi nilai spiritual, yang mana merupakan fokus pada tulisan ini. Oleh karena itu, tulisan ini tidak membahas aspek teknisnya melainkan lebih pada dasar filosofis dari program revolusi KIA. Untuk itu, apabila ditinjau dari filsafat manusia sangat tampak bahwa program KIA merupakan upaya untuk memanusiakan manusia. Dalam artian, program revolusi KIA adalah program yang memiliki nilai mengangkat harkat dan martabat manusia menuju proses penjadi dan semakin mendekati fitrah manusia (nobel creature or imagodei).
Lanjut bahwa program revolusi KIA juga merupakan suatu upaya yang mendewasakan dan memandirikan manusia yang dimulai dari proses penyadaran agar BUMIL melahirkan di fasilitas kesehatan yang patas sehingga dapat ditolong oleh tenaga kesehatan yang handal juga. Spesifiknya yaitu program revolusi KIA merupakan program yang diarahkan untuk memotivasi kesadaran masyarakat bahwa kesehatan itu merupakan kekayaan yang tak ternilai sehingga perlu mendapatkan perhatian secara mendalam. Terkait kekayaan tak ternilai itulah, program revolusi KIA semakin membuat keluarga menjadi sadar akan pentingnya kesehatan sebagai aspek operasionalisasi. Logikanya adalah bermodalkan kesehatan yang baik maka manusia dapat menjalankan eksistensinya dengan baik dan bagaimana apabila manusia menjadi sakit maka tentu saja akan sangat menghambat operasionalisasi eksistensi manusia itu sendiri.
Selain itu, program revolusi KIA juga merupakan suatu upaya nyata bahwa manusia dilahirkan oleh ibu, karena itu perlu adanya kesadaran bahwa kasih ibu tidak terbatas seperti matahari yang tidak pernah bosan-bosannya menyinari dunia. Dengan kata lain, program revolusi KIA merupakan suatu upaya nyata yang memuat nilai kehidupan (virtue value) bahwa “surga berada di bawah telapak kaki ibu” sehingga upaya penyelamatan BUMIL dan bayi neo natal merupakan suatu perwudan dari surga dibawah telapak kaki ibu. Dan hal ini merupakan suatu ungkapan rasa syukur pada sang Agung bahwa manusia adalah makluk noble creature. Karena itu kesadaran atas tanggung jawab yang terindikator dalam niat sungguh-sungguh mensukseskan program revolusi KIA sebenarnya mendeskripsikan suara hati murni untuk melihat sesama sebagai manusia.
Sehubungan dengan penjelasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa program revolusi KIA merupakan suatu program yang patut dan sekali lagi patut diupayakan oleh segenap jiwa dan raga, yang apabila dikerucutkan dapat dikatakan bahwa peran masyarakat, institusi, nakes, keluarga dan individu sangat vital dibutuhkan untuk mendorong kesuksesan program revolusi KIA. Untuk itu, perlu adanya semangat dan niat yang kuat untuk melakukan program revolusi KIA dan tentu saja semua itu dilakukan jangan disertai berbagai maksud lain melainkan hanya tertuju pada memanusiakan manusia melalui proses persalinan di faskes yang memadai dan ditolong oleh nakes yang memadai juga. Dalam hal ini, terindikasi bahwa program revolusi KIA merupakan suatu upaya demokrasi kesehatan sehingga kemiskinan dan kesehatan yang kerap kali menjadi masalah dapat dikikis sampai habis dan menuju masyarakat yang bukan hanya cerdas kreatif inovatif melainkan juga sehat.

Membaca Sebagai Kebutuhan


Kebutuhan adalah sesuatu yang harus dipenuhi supaya kehidupan manusia tersebut dapat dijalankan. Dengan kata lain bahwa kebutuhan adalah sesuatu yang tidak ada tawar menawar untuk dipenuhi. Berpijak pada definisi tersebut sangat tampak bahwa setiap manusia pasti memiliki kebutuhan dan menuntut manusia untuk memenuhinya. Tidak hanya itu saja, kebutuhan juga dapat bersifat sentral yaitu membuat manusia dapat melakukan eksistensinya dengan baik dan benar. Ditujukan untuk memperjelas, dalam tulisan ini akan diarahkan untuk bidang pendidikan yang beresensikan aktivitas belajar.
Terkait belajar itulah, sebenarnya memuat nilai etis yaitu kewajiban hakiki yang harus dilakukan oleh manusia supaya membuat hidupnya menjadi berarti. Hanya saja pada kenyataannya membaca belumlah menjadi aktivitas yang memadai atau dianggap penting oleh manusia. Untuk itu dalam tulisan ini akan diarahkan untuk bagaimana menjadikan membaca sebagai salah satu kebutuhan manusia. Spesifiknya yaitu bagaimana menjadikan membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan dan harus dilakukan supaya hidup menjadi penuh warna, keindahan dan kebijaksanaan.
Mengapa, karena melalui membaca manusia akan mampu mengubah perilaku dari tidak benar menjadi benar adanya dan hal ini konsisten sepanjang manusia masih bernafas. Pertanyaannya adalah bagaimana menjadikan membaca sebagai kebutuhan? Untuk itu dalam tulisan ini akan dipaparkan beberapa teknis yang dapat dijadikan cara konkrit. Pertama adalah sadarilah bahwa membaca merupakan salah satu cara untuk membuka cakarawala berpikir sehingga mampu membuat pertimbangan yang rasional. Mengapa kesadaran penulis menaruhnya pada solusi pertama karena tanpa didukung kesadaran maka setiap perilaku hanyalah bersifat sementara saja dan tidak permanen. Oleh karena itu, usaha menumbuhkan kesadaran sebenarnya merupakan prioritas tertinggi dalam dunia pendidikan sehingga manusia dapat melaksanakan eksistensinya dengan keteguhan jiwa. Dan tentu saja semua itu diarahkan untuk mencapai tujuan hidup yang membuat manusia menjadi berarti.
Kedua adalah disiplin membaca dan hal ini janganlah diartikan sebagai suatu kegiatan yang membosankan melainkan cukuplah dengan membaca setiap hari 5 menit hingga 10 menit. Hal ini penting supaya pada awalnya belajar membaca menjadi aktivitas yang sangat luar biasa. Namun untuk mempertahankan kebiasaan membaca menjadi aktivitas yang luar biasa menyenangkan maka perlu ditingkatkan seiring berjalannya waktu. Dengan demikian, diharapkan dua cara ini dapat membawa perubahan pada perilaku orang supaya dapat menjadikan membaca sebagai kebutuhan hidup yang hakiki.
  

Kesehatan Sebagai Investasi


Istilah investasi merupakan istilah yang banyak ditemui dalam bidang keuangan dan akuntansi, namun tidak tertutup kemungkinan digunakan dalam bidang lain. Sebelum melanjutkan lebih jauh, penulis akan memberi pemaknaan untuk investasi pada umumnya. Investasi adalah proses melipatgandakan sesuatu. Berpijak pada definisi tersebut tampak bahwa investasi sangat dibutuhkan karena tujuannya untuk melipatgandakan sesuatu yang positif. Oleh karena itu, penggunaan investasi untuk bidang kesehatan sangat tepat karena akan mengakumulasi kesehatan.
Samapi di sini, pemaknaan investasi pada kesehatan mutlak dilakukan oleh siapa saja, hanya saja untuk mengaplikasikannya dibutuhkan saling kerja sama atau sinergi antara beberapa pihak terkait seperti pemerintah, puskesmas, masyarakat, keluarga, dan lain-lain. Dalam tulisan ini akan diarahkan pada institusi puskesmas, karena perannya sangat vital bagi kesehatan masyarakat dan kelaurga. Dalam artian, kinerja puskesmas merupakan yang merupakan rantai terakhir dalam bidang kesehatan sehingga akan menyentuh masyarakat yang apabila dikaji dari perspektif ekonomi memiliki pendapatan serta kesadaran akan kesehatan yang belum optimal.
Ditujukan untuk memperjelas bahwa saat ini pemerintah telah mengaplikasikan program BOK, JAMKESMAS, dan JAMPERSAL guna memberi bantuan kesehatan serta mengangkat derajat kesehatan masyarakat. Hanya saja utnuk sukses mencapai atau mewujudkannya sangat memerlukan institusi puskesmas guna menjalankan. Untuk prosedur cara operasional tidak menjadi fokus tulisan ini akan tetapi diarahkan pada pemahaman mendasar (paradigm) tentang kegiatan puskesmas untuk masyarakat yang menurut paradigma psenulis sebagai suatu investasi jitu.
Karena pada prinsipnya, kesehatan merupakan investasi atau ujung tombak pembangunan sumber daya manusia selain pendidikan. Untuk itu perubahan pola perilaku (mindset) tenaga kesehatan puskesmas sangat dibutuhkan. Dalam artian nakes puskesmas perlu diberi edukasi untuk menganggap tugas melayani kesehatan kepada masyarakat sebagi tugas yang mulia atau memuat nilai keutamaan. Oleh karena itu diharapkan dengan memahami nilai keutamaan tersebut, masyarakat dan nakes puskesmas saling bersinergi sehingga tujuan awal dari investasi pada kesehatan akan tercapai dan tentu saja keberhasilan tersebut akan merubah Index Pembangunan Manusia (IPM) menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Selasa, 28 Agustus 2012

Aku Belajar Maka Aku Hidup


Kehidupan yang indah dan bahagia tidak mungkin diwujudkan apabila orang malas belajar. Karena hanya melalui belajarlah orang dapat membuka kebekuan cakrawala berpikirnya sehingga mampu mencermati warna-warni kehidupan. Hanya saja kemalasan belajar seringkali menjadi penyakit bagi orang-orang, dan hal ini akan tampak dari bagaimana orang malas untuk mengolah informasi, mencari informasi, membaca, atau mungkin juga menulis dan meneliti. Tapi itu semua hanya sebagian aspek saja karena pada hakikatnya belajar merupakan upaya sadar untuk lebih mengenal dirinya sehingga sikap negatif menjadi sikap positif lalu menjadi sikap proaktif.
Untuk itu, kesadaran untuk senantiasa belajar sebenarnya merupakan kewajiban moral tertinggi bagi siapa saja. Dan hal ini tidak dapat tawar menawar untuk melakukannya. Dalam artian bahwa sejak masih dalam rahim ibu, manusia sudah diberikan kewajiban moral untuk belajar dan senantiasa belajar. Pembaca sekalian dapat mencari informasi tambahan tentang bagaimana saat ini sudah banyak sekali ditemukan teknik-teknik untuk mengasah dan mendorong janin belajar.
Terlepas dari bagaimana manusia sudah melakukan belajar sejak rahim ibu. Selanjutnya adalah menciptakan suatu kebiasaan permanen untuk selalu belajar dan belajar. Untuk itu, penulis akan mensharekan apa yang penulis alami ketika penulis belajar, tapi smeua itu bukan berarti dianggap sebagai suatu hal yang berlebihan melainkan hanya sebagai suatu titik kritisi diri.
Kalau setiap manusia memiliki kesadaran diri untuk melakukan apa yang diyakininya, maka penulis juga memiliki nilai hidup yang menjadi sandaran penulis yaitu belajar. Karena melalui belajar, apa yang menjadi titik-titik hitam dalam hidup penulis akan menjadi suatu ajang atau jembatan untuk memperbaiki diri dan hal ini begitu mempesona karena akan membuka cakrawala penulis sendiri untuk semakin dewasa dalam berpikir, berperilaku dan bertutur kata. Dan sebenarnya hal ini merupakan suatu kenikmatan hakiki karena pengalaman melalui belajar untuk dijadikan kehidupan merupakan sesuatu yang harus dijalani. Lanjut bahwa kesulitan mendeskripsikan karena dibutuhkan kesediaan untuk menjalaninya. Akhir kata, semoga saja kenikmatan aku belajar maka aku hidup mampu dirasakan oleh siapa saja. Salam....