Tampilkan postingan dengan label Manajemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Januari 2013

Tantangan Itu Anugerah


Impian adalah benih kesuksesan karena menyangkut harapan mau menjadi sesuatu di kemudian hari. Dan hal itu sungguh indah karena menantang si individu untuk berkir keras mencari jala yang harus dilalui sambil menjaga diri untuk tidak tergelincir untuk fokus pada masa depan yang sungguh indah. Beberapa orang berhasil menurut analisis penulis, entah itu orang indonesia atau pun orang luar negeri namun terdapat beberapa hal yang penulis pelajari dari kesuksesan orang-orang tersebut yakni tetap berusaha dan jangan menyerah.
Memang penulis akui bahwa terdapat juga faktor-faktor lainnya yang turut mempengaruhi kesuksesan namun penulis hanya menyorot hal itu karena bagaimana pun mnejadi seorang pembangun masa depan tipis sekali perbedaannya dengan seornag pemimpin. Lanjut, apabila orang gagal dalam menentukan jalan yang dilalui maka ada konsekwensi yaitu mau belajar dari masa masa lalu dan tetap berjalan membangun masa depan. Dan semua itu sekali lagi sungguh indah karena menantang dan tantangan itu merupakan bagian dari kehidupan yang terindah. Dengan kata lain, tantangan merupakan salah satu amugerah sang Kuasa karena itu wajib untuk dihadapi.
Sehubungan dengan niat menghadapi tantangan untuk membangun masa depan membuat fakta masa depan terbuka peluangnya dan apabila mengalami kegagalam pun tidak akan membawa konsekwensi yang pahit asalkan mau belar saja. Dan memang hal itu yang membuat seorang pecundang dan pemenang dapat dibedakan. Hal itu dapat dibuktikan apabila ditelusuri kisah-kisah kesuksesan ornag yang sukses yang mana sepengetahuan penulis bahwa mreka pun pernah mengalami kegagalam namun yang membedakan mereka adalah mereka bangkit lagi dari kegagalan tersebut dan berjalan lagi menuju impian yang tertanan kuat dalam sanubari.
Ngak percaya? Coba saja baca buku-buku kesuksesan dari dlam negeri maupun luar negeri dan pembaca akan menemukan bagaimana sikap mereka ketika mengalami kegagalan bahwa mereka sungguh luar biasa dalam menentukan langkah selanjutnya dan apabila mengalami kegagalan lagi maka mereka tetap belajar dari pengalaman tersebut dan melangkah lagi. Bukti lainnya adalah coba sekali-kali sharing dengan orang-orang sukses lainnya maka pembaca akan menemukan bahwa mereka pernah mengalami kegagalan, hanya saja mereka mampu bangkit lagi dari kegagalan dan melangkah maju meraih masa depan. Sekiranya melalui tulisan singkat ini, diketahui dengan jelas bahwa kesuksesan itu merupakan suatu kewajiban sehingga wajib diperjuangkan dengan upaya-upaya sadar dan tetap diperjuangkan.

Jumat, 14 September 2012

One For All, All For One

Ketika menonton salah satu film yang berjudul musketer. Penulis sangat tertegun dengan prinsip kerja mereka, yang mana musketer adalah pasukan kusus penjaga dan pelindung raja Perancis. Tepatnya adalah bagaimana semua pasukan yang tergabung dalam musketer diajarkan dan diusahakan memahami hingga sanubari prinsip hidup seorang msuketer yaitu satu untuk semua-semua untuk satu. Berpijak pada prinsip kesatriaan pasukan musketer tersebut telah berhasil memberi ikatan psiko-sosial-spiritual bahwa mereka adalah satu dan satu prajurit merupakan bagian dari keseluruhan.
Namun bukan hanya itu saja yang membuat penulis kagum, melainkan bagimana kesesuaian prinsip tersebut satu untuk semua-semua untuk satu (one for all, all for one) dengan prinsip kerja sama tim. Nalarnya adalah bagaimana setiap anggota tim merupakan penentu kesuksesan bagi semuanya dan begitu juga sebaliknya bahwa semua anggota merupakan kekuatan kesuksesan bagi masing-masing anggota. Dan hal ini akan mengikat semua anggota tim untuk sadar bahwa mereka semuanya merupakan suatu kesatuan yang utuh sehingga perlu adanya kerja sama dan kejujuran untuk mewujudkan suatu tujuan.
Berpijak pada ulasan sebelumnya, tampak bahwa maksud penulis lebih menekankan pada aspek manajerial. Dan hal ini memang sesuai dengan konteks kerja dalam operasional manajerial bahwa keutamaan dan keintiman sebuah tim kerja merupakan suatu hal yang mutlak di perlukan dan tidak dapat diabaikan. Diibaratkan seperti kekuatan sebuah rantai bahwa kekuatan utamanya terletak pada titik terlemah mata rantai sehingga perlu untuk saling mendukung dan berkerja sama mewujudkan tujuan yang selaras dengan visi organisasi.
Selain itu, prinsip dari satu untuk semua-semua untuk satu (one for all, all for one) juga sangat bermanfaat untuk perkembangan kedewasaan diri. Maksudnya adalah ketika seseorang menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari kesatuan dengan orang lain akan memicu sikap positif untuk menghargai dan menghormati orang lain. Lebih spesifik lagi yaitu bagaimana menempatkan atau memposisikan diri bahwa ada kesuksesan yang membutuhkan bantuan orang lain sehingga tidak lupa diri atau menyombongkan diri. Lanjut bahwa dengan memahami dan peka terhadap saling kesatuan dirinya dengan orang lain juga akan menimbulkan rasa kasih sayang pada bukan saja makluk hidup seperti manusia, melainkan juga pada makluk lainnya seperti tumbuhan dan alam semesta.
Logikanya tentang pemahaman bagaimana mengaplikasikan prinsip ini adalah orang merasa sadar bahwa dirinya merupakan suatu kesatuan dengan alam semesta sehingga tidak sembarangan merusak alam semesta karena akan berakibat buruk pada dirinya dan juga orang lain. Seperti membuat kerusakan alam sehingga dapat berdampak buruk pada sesama manusia. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa prinsip ini akan meningkatkan spirtualitas manusia untuk memahami hakekat ketergantungan antara manusia dan juga pada eosistem alam sehingga akan berusaha untuk menjaga dan saling berkontribusi pada sesama manusia dan juga kelestarian alam yang merupakan tempat manusia bereksistensi sepanjang siklus hidup masing-masing orang.

Sabtu, 01 September 2012

Indahnya Bekerja Namun Tidak Melupakan Hobi


Kerja merupakan suatu hal yang wajib dilakukan oleh siapa saja, karena kerja merupakan jembatan untuk melaksanakan suatu kewajiban moral. Maksudnya adalah melalui kerjalah, kita dapat membuat suatu nilai yang tentu saja sangat bermanfaat untuk diri dan orang lain. Segi lainnya dari kerja adalah merupakan suatu wadah untuk mengaktualisasi diri sehingga seluruh potensi unik yang diberikan sang Agung menjadi terealisasi. Dan mungkin satu hal yang tidak dapat diabaikan adalah berkaitan dengan upah atau gaji yang diperoleh sebagai balas jasa atas upaya yang dikeluarkan.
Berpijak pada tiga aspek fundamental dari kerja itulah, dapat dikatakan bahwa kerja merupakan kegiatan yang wajib dan luhur. Penulis sudah beberapa kali mengamati secara seksama dan mencoba berinteraksi dengan para pekerja atau orang-orang yang melakukan aktivitas kerja, penulis menemukan bahwa ada yang bersukacita ketika bekerja dan ada juga yang kebalikannya. Dan dari semua itu, penulis lebih dalam lagi mencoba mencari tahu bagaimana gambaran mental mereka ketika bekerja. Spesifiknya yaitu apakah mereka bekerja, bekerja dan hanya bekerja saja ataukah mereka bekerja namun tetap mempertahankan hobi mereka.
Penulis menemukan fakta yang unik dan bervariasi, seperti ada beberapa yang bekerja dan hanya bekerja saja tanpa mempedulikan lain-lainnya. Ada beberapa yang bekerja karena ikut-ikutan, ada beberapa yang bekerja tapi tidak tahu atau mungkin saja tidak memiliki suatu hobi yang dilakukan selain bekerja dan bekerja saja. Dan ada kategori terakhir yang memang mereka bekerja dengan sukacita namun tetap mampu melakukan hobinya dan tentu saja hal itu sangat indah dan membawa berbagai sukacita ketika bekerja.
Untuk itu, terkait dengan variasinya bagaimana sikap mereka dalam bekerja dan bagaimana dengan berbagai kebiasaan mereka setelah bekerja (hobi), penulis menganalisis bahwa orang yang bekerja tapi tetap mampu menjalankan hobinya adalah pekerja-pekerja yang memiliki kemampuan mengelola waktu mereka. Karena selain bekerja, mereka benar-benar menikmati hidup mereka sehingga muatan pemaknaan spiritual bekerja sungguh-sungguh terjadi.
Merujuk pada ulasan-ulasan sebelumnya, penulis akan lebih mengkerucutkannya dan akan mengambil kehidupan penulis hingga saat ini. Penulis memang bekerja dan menikmati pekerjaan itu karena penulis sadar akan nilai keutamaan dari bekerja itu sendiri sehingga moti utama penulis bekerja adalah melaksanakan tugas yang utama dan tidak mempersoalkan terkait faktor-faktor lainnya. Namun selain bekerja yang seperti penjelasan pada awal tulisan ini dalam tiga alasan fundamental, penulis memang tetap menjalankan hobi penulis yang sudah sangat melekat dalam setiap kehidupan penulis yaitu membaca, menulis dan meneliti. Khusus untuk meneliti, walaupun banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, penulis masih tetap saja melakukan penelitian ilmiah untuk dipublikasikan dalam berbagai jurnal nasional maupun internasional. Dan tentu saja hal itu semakin memperkaya pemaknaan bekerja yang penulis lakukan.
Memang penulis akui bahwa bekerja dan tetap melakukan hobi merupakan suatu hal yang kadang-kadang membuat diri kita terganggu karena misalnya sudah keletihan karena bekerja namun masih harus meneliti. Tapi semua itu kalau dilandaskan pada sukacita dalam bekerja atau memiliki fokus pada kinerja maka tidak akan menjadi masalah melainkan berkat. Dan semua itu kuncinya terletak pada manajemen waktu dan pikiran (mind). Nalarnya adalah ketika kita mampu mengelola waktu kapan harus bekerja dan bagaimana sisa waktu untuk menjalankan hobi maka tidak akan bermasalah. Jadi prinsipnya adalah manajemen waktu dan pikiran.
Seperti sekarang ini, selain bekerja maka penulis juga masih dapat menyempatkan waktu untuk menulis dan salah satu wujudnya adalah tulisan yang sedang dibaca oleh pembaca sekalian. Selain menulis, penulis juga sedang melakukan beberapa penelitian yang walaupun memang menguras eb=nergi untuk berpikir namun semua itu akan sangat berbeda kepuasan dan kebahagiaan yang dirasakan penulis. Dan tentu saja hal ini akan penulis pertahankan seutuhnya supaya tidak menimbulkan mismanajemen dalam melakoni pekerjaan namun tetap menjalankan hobi.
Yah kira-kira seperti itu, deskripsi menurut pandangan penulis tentang arti pentingnya bekerja yang dapat membawa kebahagiaan dan tidak terjebak dalam perangkap birokrasi yang kadang-kadang mengharuskan kita menjalani pekerjaan secara monoton dan lupa untuk menyesuaikan dan meningkatkan ilmu dan pengetahuan. Catatan bahwa apabila kita hanya bekerja, bekerja dan bekerja saja maka dapat memicu kemalasan untuk belajar dan hal ini sangat riskan karena seperti yang diketahui bahwa saat ini merupakan jaman pengetahuan sehingga jangan mau terjebak dalam status quo bias yang mengahmbat kreatifitas dan inovasi. Akhir kata, semoga saja benih kesadaran dapat dipicu untuk bukan hanya bekerja dan bekerja melainkan juga tetap melakukan hobi yang bermanfaat, atau dalam bahasa istilah disebut sebagai bermain sambil belajar-bekerja sambil belajar dan bekerja sambil melakukan hobi. Salam sukses selalu...

Selasa, 15 Mei 2012

Semangat Kerja Tinggi Pemicu Output Memuaskan


Berkarya dengan sukacita merupakan hal yang wajib dilakukan oleh siapa saja. Karena hanya orang yang bersuakcita dalam bekerja  bertendensi memiliki output yang maksimal. Lnajut, turunan dari sukacita adalah semangat kerja yang tinggi dan hal ini akan membuat pekerjaan terasa begitu menyenangkan dan dijauhi dari bersungut-sungut ketika bekerja. Oleh karena itu, dalam tulisan singkat ini akan ditujukan pada membangun semangat dan bagaimana mempertahankan semangat kerja yang tinggi. Dan langkah pertamanya adalah mendefinisikan konsep semangat dengan jelas. Menimbang tanpa kejelasan konsep akan sangat sulit untuk memahaminya.
Konsep semangat memiliki differentia specifica yaitu kekuatan yang menyala-nyala dalam batin untuk mewujudkan tujuan. Berpijak pada definisi tersebut tampak bahwa semangat merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada pencapaian prestasi. Dan hal yang sama juga pada konteks kerja, dimana orang perlu bersemangat tinggi sehingga tantangan akan menjadi suatu hal yang menyenangkan. Tidak hanya itu saja, berpijak pada definisi tersebut, tampak juga bahwa semangat berperan untuk memicu keyakinan positif dalam bekerja. Maksudnya adalah orang yang memiliki semangat tinggi dalam berkarya akan memiliki efikasi diri yang bagus sehingga tidak gentar terhadap perubahan serta tantangan dan rintangan dalam bekerja.
Apabila dibedah dari perspektif motivasi maka semangat kerja sangat penting untuk kesuksesan pekerjaan, karena esensi utama dari motivasi adalah semangat. Konkritnya adalah orang yang bersemangat tinggi akan mencurahkan daya upaya yang benar-benar tulus sehingga prestasi bagus menjadi suatu hal yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Perhatikan saja orang yang sedang bekerja, apabila dirinya memiliki semangat tinggi maka etos kerjanya akan terpancar antusias yang tinggi pula. Dan hal ini begitu sangat luar biasa karena bukan hanya orang tersebut yang akan memanen hasil baik melainkan organisasi sebagai tempat bekerja juga memperoleh kinerja yang baik. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila saat ini organisasi dalam mencari pekerja bertendensi memasukkan semangat atau spirit kerja sebagai salah satu faktor penentu penilaian.
Selanjutnya adalah bagaimana memicu semangat kerja tinggi serta bagaimana mempertahankan semangat kerja tinggi dan juga meningkatkannya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis akan mengarahkannya menggunakan perspektif psikologi positif. Namun sebelum itu perlu diketahui dulu tentang arti dari psikologi positif. Arti dari psikologi positif adalah cabang dari ilmu psikologi yang mengkaji faktor-faktor relevan dalam mempengaruhi perilaku orang, dan dalam menentukan faktor yang relevan didahului dengan pengujian ilmiah yang tepat dan berulang kali. Merujuk dari definisi tersebut, tidak mengherankan apabila faktor semangat menjadi salah satu faktor penentu, hanya saja faktor semangat merupakan faktor yang implisit karena menjadi terkategori dalam efikasi diri. Untuk itu, pembedahan semangat kerja dalam tulisan ini juga tidak akan terlepas dari efikasi diri yang pada abad 21 ini menjadi magnet bagi akdemisi dan praktisi.
Tepatnya tentang memicu semangat kerja, perlu adanya pemahaman tentang bagaimana pola perilaku dari orang yang bersangkutan. Dan untuk mengetahuinya, kajian tentang sistem keyakinan (believe system) menjadi tak terpisahkan. Menimbang bahwa sistem keyakinan akan sangat menentukan proses internalisasi seseorang. Dan hal ini akan berpengaruh pada semangat seseorang. Nalarnya adalah ketika sistem keyakinan orang dibentuk berdasarkan masukan positif maka keluarannya juga akan positif pula. Konkritnya adalah ketika seseorang berkeyakinan bahwa dirinya mampu dan mempelajari kemampuan serta kekurangannya dengan jelas maka akan memicu semangat kerja yang tinggi. Oleh karena itu, untuk menimbulkan semangat yang tinggi, perlu membangun dan memiliki keyakinan positif terlebih dahulu.
Terkait bagaimana mempertahankan serta meningkatkan semangat kerja yang tinggi, perlu diketahui terlebih dahulu tentang seni mempertahankan keyakinan positif secara berkelanjutan. Dan untuk itu, berpikir positif merupakan input utama untuk mempertahankan semangat kerja yang tinggi. Lebih spesifiknya yaitu orang yang tetap berusaha berpikir positif akan mempengaruhi jaringan neuron dalam batok kepala sehingga memicu perilaku yang positif juga, dan salah satu dari perilaku positif yaitu “semangat kerja yang tinggi”. Oleh karena itu, ketika melihat ada beberapa pekerja yang memiliki semangat kerja tinggi maka mereka akan tampak begitu antusias dan aurora tubuh mereka begitu damai, tentram, dan sukacita. Hal yang sama juga pada pekerja yang kurang bersemangat maka aurora tubuh mereka akan terlihat kurang tentram, damai dan sukacita. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk memiliki semangat kerja yang tinggi senantiasa diawali dari cara berpikir seseorang. Dan cara berpikir yang dimaksud yaitu berpikir positif. Dengan kata lain, semangat kerja tinggi atau rendah senantiasa diawali dari dalam kepala seseorang.

New Blood dan Old Blood


Berprestasi unggul (excellent performance) merupakan salah satu tujuan oraganisasi, karena melalui karyawan-karyawan yang haus akan prestasilah maka perusahaan dapat berkinerja unggul. Dalam artian bahwa karyawan senantiasa dituntut untuk berprestasi dan termanifestasi dalam menjalankan fungsinya dengan baik. Terkait fungsi inilah seringkali terjadi tumpang tindih antara satu karyawan dengan karyawan lainnya, dan hal ini dapat diperparah apabila ditambah lagi dengan sentimen karyawan senior (old blood) terhadap karyawan baru (new blood). Sentimen yang dimaksud adalah bagaimana karyawan senior merasa telah memiliki pengalaman sehingga karyawan baru harus membeo begitu saja pada karyawan senior (old blood).
Lanjut bahwa memang tak dapat dipungkiri bahwa aspek pengalaman memiliki pengaruh signifikan dalam menunjang prestasi karena efikasi diri (self efficacy) karyawan dapat timbul dari akumulasi pengalaman sepanjang siklus kerjanya. Hanya saja, hal tersebut dapat menjadi masalah apabila hanya berpatok pada pengalaman saja, karena pada prinsipnya pengalaman merupakan suatu peristiwa yang terjadi pada masa lalu dan bukan pada masa kini atau pun pada masa depan. Dan ditambah lagi bahwa saat ini perubahan merupakan teman setia dari setiap orang termasuk semua organisasi sehingga terkesan agak berlebihan apabila hanya memfokuskan pada pengalaman saja sebagai faktor tunggal penentu prestasi organisasi.
Spesifiknya yaitu tidak masuk akal apabila pegawai senior begitu merasa hebat karena telah mengakumulasi pengalaman, karena dapat saja karyawan baru alias new blood memiliki pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan baru dalam mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya. Tidak itu saja, apabila ditelusuri dari perspektif organisasi pembelajaran (learning organization) maka karyawan senior memiliki tugas tambahan yaitu membantu karyawan baru untuk berprestasi seperti mereka, dan cara yang dapat ditempuh yaitu dengan merubah implicit knowledge menjadi eksplicit knowledge.
Merujuk pada ulasan sebelumnya, tampak bahwa sebaiknya perlu ada sinergi antara karyawan senior dan karyawan baru. Menimbang bahwa karyawan senior akan membantu dengan mensharekan pengalamannya, sedangkan karyawan baru memiliki kewajiban untuk mensharekan pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan baru. Mengapa memerlukan sinergis seperti ini karena pada prinsipnya organisasi merupakan makluk hidup sehingga keseluruhan karyawannya wajib untuk saling membantu.
Sampai di sini, diketahui bahwa karyawan senior dan baru alias new blood memiliki segi kekuatan dan juga kelemahan. Dan untuk saling menutup kelemahan dan meningkatkan kekuatan diperlukan adanya kesediaan untuk mau melepaskan ego atau merasa hebat. Dalam pengertian bahwa solusi untuk berkesinambungan prestasi suatu organisasi sangat memerlukan kesediaan dan partisipasi totalitas anggota organisasi. Atau dalam ungkapan terkenal sang tokoh manajemen Nonaka sebagai knowledge sharing.
Pertanyaan lanjutannya adalah bagaimana mengaplikasikannya sinergitas antara karyawan senior dan karyawan baru? Jawabannya terletak pada fungsi kepemimpinan untuk memainkan peran komunikator yang baik yang termanifestasi dalam komunikasi yang baik antara pemimpin dengan karyawannya. Dengan kata lain, bagaimana pemimpin organisasi mampu menciptakan budaya komunikasi yang terbuka dan efektif dalam organisasi sehingga dapat diteladani karyawan. Lanjut bahwa solusi ini tampaknya bersifat asbstrak namun itulah salah satu solusi yang apa adanya atau sering dipraktekkan dalam kehidupan suatu organisasi.
Sebagai contoh adalah bagaimana gaya manajemen Jepang seperti pada Honda, Matsushita, Sony dan lainnya. Yang sangat menonjolkan komunikasi sebagai ujung tombak prestasi organisasi yang berkesinambungan. Dimana kondisi organisasi-organisasi tersebut begitu dominan dilandasi komunikasi yang efektif, terbuka dan tetap menjaga privasi masing-masing karyawan. Dan hal ini sangat membantu dalam mengaplikasikan transfer pengetahuan dan juga pembentukan pengetahuan baru yang sangat berguna bagi prestasi organisasi.
Mengapa, kok bisa membantu pengembangan pengetahuan baru? Jawabannya terletak pada bagaimana karyawan senior menularkan pengalaman mereka pada karyawan baru berdasarkan komunikasi yang bijak sehingga memotivasi karyawan baru untuk mengikuti jejak para seniornya. Dan salah satu manifestasinya adalah terbukanya ruang bagi komunikasi melalui open forum manajemen serta fokus aplikasi pada research and development (R&D). Dan satu hal yang tak dapat diabaikan adalah bagaimana peran budaya yang signifikan. Konkritnya peran budaya nasionalis Jepang yang sangat menghargai komunikasi antara karyawan sehingga peran budaya ini mampu menembus tembok pembatas yang mengkotak-kotakkan alias memisahkan karyawan senior dan karyawan baru untuk saling bersinergis dalam membangun prestasi organisasi secara kontinyu.

Membludaknya Magister Manajemen Di Indonesia


Saat ini hampir semua universitas di Indonesia yang didalamnya terdapat Fakultas Ekonomi (FE) memiliki Program Magister Manajemen atau yang lebih sering dikenal sebagai Program S2 Magister Manajemen. Hal itu memang baik karena menandakan sudah majunya pendidikan di tanah air kita, hanya saja menurut pengamatan penulis bahwa membludaknya atau banyaknya lulusan Magister Manajemen tersebut belum sepenuhnya sesuai dengan yang diharapkan. Karena walaupun begitu banyaknya lulusan Magister Manajemen tetap saja Indonesia masih ketinggalan untuk publikasi ilmiah di tingkat internasional.
Toh kalau pun tidak pada tingkat internasional, untuk tingkat nasional saja masih tidak sebanding antara jumlah kelulusan dengan publikasi di jurnal ilmiah. Hal ini karena pada prinsipnya/fundamentalnya tugas akhir atau yang biasa disebut Tesis haruslah masuk publikasi ilmiah (coba saja dibayangkan terkait arti Magister yang beresensikan pemimpin atau suhu). Toh kalau pun tidak masuk publikasi ilmiah maka seharusnya seorang lulusan Magister Manajemen mampu menulis, tapi pada kenyataannya tidaklah semua lulusan Magister Manajemen mampu menulis.
Hal ini diperparah lagi dengan adanya budaya copy paste yang salah satu manifestasinya adalah membayar orang lain untuk mengerjalan Tesis. Alhasil pun setelah lulus maka mereka sangat bertendensi tidak mampu menulis dan melakukan riset. Lanjut bahwa fenomena sebelumnya juga semakin memperkeruh pendidikan di Indonesia karena saat ini pemerintah sedang bersemangatnya mendorong pendidikan berbasis karakter. Dalam artian bahwa pendidikan berbasis karakter apa yang diharapkan outputnya apabila profil lulusan tidak mampu mengerjakan Tesis untuk publikasi dan juga tidak mampu menulis.
Sehubungan dengan ulasan di atas, terdapat indikasi juga bahwa kemalasan menulis pada penyandang Magister Manajemen mungkin saja disebabkan ketidakpahaman atas “manfaat dari menulis”. Sekedar deskripsi umum bahwa manfaat dari menulis dan meneliti yaitu bagaimana kita membiarkan orang lain ikut ambil bagian dalam pemberdayaan. Nalarnya adalah dalam proses meneliti dan menulis sebenarnya sedang terjadi proses perubahan tacid knowledge menjadi eksplicit knowledge, dan hal ini akan berefek positif pada kemajuan pendidikan di Indonesia. Menimbang orang lain dapat mengakses tulisan dan hasil riset kita untuk berbagai kepentingan yang diarahkan pada kemajuan dan pengembangan sumber daya nara di Indonesia.
Terlepas dari profil output para Magister Manajemen di ibu pertiwi. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menciptakan suatu lulusan Magister Manajemen yang mampu mempublikasikan karyanya atau mungkin mampu menulis sehingga setelah lulus tetap mampu survive atau bahkan tetap eksis? Untuk menjawabnya, menurut hemat penulis bahwa diperlukan suatu program khusus dalam lingkungan akademik untuk membiasakan mahasiswanya menulis dan bukan hanya mengerjakan tugas saja, yang kemungkinan dalam proses pengerjaannya dapat di download dengan mudah dari internet.
Bentuk konkritnya adalah bagaimana pemimpin dan pengelola institusi pendidikan mampu menciptakan kebijakan untuk setiap mahasiswanya mengumpulkan karya tulis tiap minggunya dan wajib di publikasikan di blognya masing-masing. Langkah konkrit lainnya adalah bagaimana peran dosen dalam memberikan “teladan” untuk disiplin menulis dan meneliti. Logikanya sangat sederhana yaitu apabila dosennya saja tidak mampu menulis dan melakukan riset maka bagaimana lagi dengan mahasiswanya. Untuk itu, dalam upaya membangun kebiasaan menulis dan meneliti pada seluruh civitas akademika suatu institusi pendiidkan maka perlu adanya kesadaran dari seluruh pengelola dan pemimpin institusi pendidikan untuk memotivasi mahasiswanya yang dimulai dari strata satu hingga strata dua (Magister Manajemen) untuk berdisiplin menulis, minimal satu lembar perhari.
Coba saja dibayangkan, dalam satu minggu sudah memiliki tujuh (7) lembar dan apabila sudah sebulan maka hasilnya sudah tiga puluh (30) lembar, dan seterusnya. Alhasil lulusan Magister Manajemen benar-benar akan mumpuni dan meningkatkan kualitas setelah mereka lulus. Langkah terakhir yang dapat meningkatkan profil lulusan Magister Manajemen yang benar-benar berkualitas adalah menciptakan cara belajar untuk setiap dua hari memberikan laporan bacaan. Hal ini perlu dilakukan karena akan mendorong para calon Magister Manajemen untuk mampu membagi waktunya dengan baik, dan salah satu proporsi waktunya adalah untuk membaca dan menulis laporan bacaan. Lanjut, karena tidak mungkinlah mampu menulis apabila malas baca. Bagaimana mungkin, ide segar diperoleh apabila seseorang malas membaca, merangkai ide untuk dituangkan menjadi suatu tulisan.
Sebagai penutup, bukan maksud penulis menyimpulkan bahwa semua lulusan para penyandang Magister Manajemen tidak mampu menulis dan meneliti, karena pasti ada sebagian penyandang Magister Manajemen yang dalam proses menempuh kuliah telah sungguh-sungguh belajar dan melatih diri sehingga walaupun mereka telah lulus pun masih tetap eksis untuk berbagi ilmu pengetahuan melalui tulisan-tulisan dan juga berbagai temuan riset.